Nov 10, 2017
363 Views
12 0

Surabaya Heritage Dalam Rangka Memperingati Hari Pahlawan 10 November

Written by

Pesonajatim.com – Tugu Pahlawan Dibangun pada tahun 1951, Berdiri di atas tanah lapang seluas 1,3 hektare dan diresmikan pada tahun 1952 Oleh Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Memiliki tinggi 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tugu berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia. Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, di mana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Tugu Pahlawan merupakan salah satu ikon Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Gedung Lindeteves Dibangun tahun 1911. Perancangnya adalah biro arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers dari Batavia (Jakarta). Setelah Belanda takluk, pada masa Kolonial Jepang, gedung ini beralih fungsi menjadi Kitahama Butai, yaitu bengkel dan gudang untuk menyimpan peralatan perang dan kendaraan tempur tentara Jepang.

Gedung Don Bosco dibangun pada 1930. Semula dimanfaatkan sebagai gudang senjata dan peluru oleh tentara Jepang. Pada tanggal 1 Oktober 1945 gedung dibawah pimpinan Mayor Harimoto ini dikepung pejuang-pejuang Indonesia sepanjang malam. Setelah gedung ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia, para pejuang membagikan senjata yang ada didalamnya kepada pejuang lainnya. Gedung kemudian dibuat markas Genie pelajar pimpinan Hasanudin Pasopati. Saat ini gedung yang berada di jalan Tidar 115 ini digunakan sebagai tempat sekolah dan panti Asuhan Don Bosco.

Gedung Internationale Credit en Handelsvereeniging didirikan pada 1929 oleh Frans Johan Ghijsels, dahulunya merupakan perusahaan perkebunan dan perbankan milik Belanda. Setelah berhasil mendarat di pelabuhan tanjung perak, pada 25 Oktober 1945 gedung ini dikuasai oleh pasukan sekutu dan dijadikan markas tentara sekutu. Tidak lama kemudian, pada 28-30 Oktober di tempat ini terjadi pertempuran sengit di sekitar gedung. Terjadilah peristiwa yang tidak terlupakan, Brigjend Mallaby komandan pasukan sekutu terbunuh oleh ledakan granat yang di lempar pejuang kemerdekaan. Di perkirakan lokasi terbunuhnya Brigjend mallaby berada di taman jayangrono. Peristiwa ini yang kemudian memicu penyerangan kota surabaya dari segala sisi pada tgl 10 nopember 1945.

Hotel Majapahit adalah sebuah hotel mewah bersejarah di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Dahulunya bernama LMS, lalu Hotel Oranje dan kemudian Hotel Yamato dan juga Hotel Hoteru. Hotel Majapahit dibangun pada tahun 1911 oleh Sarkies Bersaudara dari Armenia sudah berubah menjadi hotel mewah bintang lima dengan total 143 kamar di lantai satu dan dua. Hotel ini sempat dikelola oleh Mandarin Oriental Hotel Group sejak 1993 hingga 2006. Pada tahun 2006, hotel ini diakuisisi oleh PT Sekman Wisata. Sebagian besar bangunan asli hotel ini masih dapat dilihat hingga saat ini, meskipun beberapa bangunan luar dan beberapa unsur interiornya telah direnovasi.

Salah satu momen perjuangan di hotel ini terjadi pada 19 September 1945, yakni Insiden Bendera. Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda yang dipimpin Mr. Pluegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak sebelah kanan hotel. Para pejuang Indonesia melakukan perobekan warna biru pada bendera Belanda, yang berwarna merah, putih dan biru, dengan demikian bendera itu menjadi merah putih yaitu bendera Republik Indonesia. Insiden bendera itu juga mengakibatkan terbunuhnya Mr. Pluegman.

Article Categories:
Sejarah
http://pesonajatim.com

Website yang berisi info seputar pariwisata yang populer dan lagi hits di jawa timur

Tinggalkan Komentar

Loading Disqus Comments ...
Loading Facebook Comments ...